Andy Waluya Wartja

Male / 24 / Indonesia / Art & creative worker (artist, illustrator, designer, curator, galerist, etc)

Pria / 24 tahun / Indonesia / Pekerja Seni & Kreatif (artist, illustrator, designer, curator, galerist, etc)

The hum of sorrow during quiet time in the house garden, listening to the loud screams of cuckoos. Then feel irritated and angry when opening the media.

*Seconds after finishing humming the neighbors banged on the door asking for help. We rushed out, they said our neighbor (Pak RW) needed oxygen. So I looked here and there and couldn’t find it.
I hope we won’t hear the sound of cuckoos!

Inggit’s departure

Started in the yard,
the waves of soul fill the space..
I heard a mournful scream in the back room,
followed by sobs in the middle of the room.

What I see right now is a beautiful white frangipani flower blooming
With indistinct eyes, broken by tears
Chest starts to feel tight, irregular breath
Leave me paralyzed on this teak chair

The subtle scent of incense pierces the senses
Stuck in a pot at the end of the garden
Colorful sandals are scattered in front of the door and keep growing
Followed by a loud sound of the cuckoos

The yellow flag starts to wave
Take out the table and chairs
Mats will be rolled out soon
Sad news is spreading
The chanting of Yasin’s faintly heard
Read by relatives who comes
Family screaming in disbelief

Still in the same position
Thinking, unsure about this
Hate it.. unprepared
Now Inggit is gone
Leaving the message stanzas

We were forced to wake up from adversity
Further in the adventure
The journey is about to begin!
Without a driver who leads
No responsible role model

The sound of tahlil leads the coffin
In its final rest
Buried all memories
And its loyalty in all limitations.

Andy Waluya Wartja.

Senandung duka di kala diam saat di kebun bawah rumah, mendengar jeritan burung uncuing yang nyaring terdengar, lalu jengkel dan marah saat membuka media pada keputusan-keputusan tak jelas dari sang malaikat berwujud.

* Hitungan detik setelah beres bersenandung tetangga menggedor pintu meminta pertolongan dan saya beserta keluarga segera keluar, tetangga kami (Pak RW) membutuhkan oksigen, saya cari sana-sini tidak mendapatkan.. Semoga tidak mendengar burung uncuing!

Kepergian Inggit.

Sebermula berada dihalaman,
gelombang sukma penuhi ruang..
Aku mendengar jeritan duka dalam kamar belakang,
disusul isak tangis ruang tengah.

Yang ku pandang saat ini bunga kamboja putih yang sedang cantik mekar
Dengan mata yang tak jelas, pecah oleh air mata
Dada mulai sesak memompa nafas yang tak beraturan
Biarkan aku lumpuh pada kursi jati ini

Aroma dupa halus menusuk penciuman
Tertancap pada satu pot diujung taman
Sendal warna-warni tak rapih didepan pintu terus bertambah
Disusul burung uncuing yang nyaring terdengar

Bendera kuning mulai melambai
Dikeluarkannya meja dan kursi
Tikar segera digelar
Pemberitaan duka mulai disebar
Lantunan surat yasin mulai terdengar,
Dibacakan oleh setiap kerabat yang datang
Keluarga menjerit tidak percaya

Masih saja dengan posisi semula
Berpikir tak yakin akan peristiwa ini
Benci..nya tak berbekal
Kini Inggit telah tiada
Disisakanya bait-bait pesan

Kami dipaksa bangun dari keterpurukan
Lebih jauh dalam petualangan
Perjalanan akan segera dimulai!
Tanpa kusir yang menuntun
Tanpa teladan yang bertanggung jawab

Suara tahlil menggiring keranda
Pada peristirahatan terakhirnya
Dikubur semua kenangan
Serta kesetiannya dalam semua keterbatasan.

Andy Waluya Wartja.